BMKG Prediksi Puncak Kemarau Jawa Timur Agustus 2026
Jangkauan Jakarta Barat – BMKG Prediksi Puncak Kemarau memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Proyeksi ini didasarkan pada analisis dinamika atmosfer global dan regional yang menunjukkan potensi kondisi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Mayoritas wilayah Jawa Timur diperkirakan mengalami periode paling kering pada Agustus 2026.
Dari total zona musim yang dipantau, sekitar 70 persen wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada bulan tersebut. Sementara sebagian kecil wilayah lainnya diperkirakan mengalami puncak lebih awal pada Juli.
BMKG menjelaskan bahwa awal musim kemarau di Jawa Timur akan berlangsung bertahap mulai April hingga Juni 2026. Namun, sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei. Pergeseran waktu ini menunjukkan adanya variasi pola musim yang dipengaruhi kondisi iklim global.
Baca Juga: Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 3 Kilometer pada Selasa Pagi
Faktor utama yang memengaruhi kondisi kemarau tahun ini adalah fenomena
El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Hingga pertengahan tahun, kedua fenomena tersebut diperkirakan berada dalam kondisi netral. Namun, menjelang akhir 2026, El Niño berpotensi menguat ke kategori lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–60 persen. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih kering dari biasanya.
Selain itu, BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Bahkan sekitar 75 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi lebih kering, yang meningkatkan risiko kekeringan, terutama di sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
Secara nasional, tren serupa juga terjadi.
BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di Indonesia secara umum akan terjadi pada Agustus 2026, mencakup lebih dari 60 persen wilayah.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini. Upaya seperti pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta mitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan menjadi langkah penting untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan panjang.
Prediksi ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim global memiliki dampak nyata hingga ke tingkat daerah. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, petani, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar dampak kemarau 2026 dapat diminimalkan, terutama di wilayah rawan kekeringan di Jawa Timur.






