Kawal Demokrasi Polda Sumut Gelar Latihan Pengamanan Unjuk Rasa Humanis untuk Kawal Demokrasi
Jangkauan Jakarta Barat – Kawal Demokrasi Polda Sumatera Utara baru‑baru ini mengadakan latihan gabungan penanganan massa aksi unjuk rasa pada 15–16 September 2025 di Lapangan Parkir Mapolda Sumut.
Latihan ini melibatkan berbagai unsur kepolisian mulai dari Dalmas, Brimob, hingga Intelijen, dengan skenario unjuk rasa damai hingga potensi eskalasi situasi.
Wakapolda Sumut Brigjen Pol. Rony Samtana menekankan bahwa tindakan personel polisi harus sesuai aturan, proporsional, tegas namun tetap menghormati hak‑hak warga untuk menyampaikan pendapat.
2.Kawal Demokrasi Skenario dan Prosedur Latihan Polda Sumut: Dari Aksi Damai sampai Anarkis
Dalam latihan gabungan tersebut, Polda Sumut mensimulasikan beberapa skenario:
Aksi unjuk rasa yang tertib dan damai, sebagai skenario awal.
Eskalasi menuju situasi anarkis, di mana pengamanan diperkuat termasuk pengerahan Brimob, formasi barikade, dan taktik pengendalian massa.
Penanganan diskriminatif dihindari; penggunaan kekerasan yang tidak perlu maupun gas air mata dijadikan opsi terakhir, dipakai secara sangat hati‑hati bila kondisi memungkinkan.
Latihan berlangsung penuh koordinasi antar satuan, termasuk Sabhara, Lalu Lintas, Dalmas, Brimob, serta tim negosiator.
Baca Juga: Kabar PHK Karyawan SPBU Swasta Imbas Stok BBM Kosong, Ini Penjelasan Shell dan Pemerintah
3. Humanisme Jadi Kunci dalam Latihan Polda Sumut, Polisi Didik Profesionalisme dan Etika
Salah satu aspek yang ditekankan dalam latihan Polda Sumut adalah pendekatan humanis. Artinya, selain kesiapan fisik dan taktis, personel juga dilatih agar mampu:
Mendengarkan aspirasi massa, memberi ruang bagi pengunjuk rasa untuk menyampaikan pendapat.
Bertindak secara persuasif dan komunikatif, bukan hanya menggunakan kekuatan.
Memahami prosedur penggunaan kekuatan, agar tidak terjadi penyalahgunaan atau tindakan berlebihan.
4. Apa Kata Pejabat & Masyarakat tentang Latihan Humanis Polda Sumut?
Dalam latihan tersebut, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto hadir langsung, memberikan arahan agar latihan ini bukan sekadar formalitas tetapi benar‑benar menghasilkan peningkatan kinerja dan profesionalisme.
Di samping polisi, masyarakat dan organisasi HAM pernah memberi catatan bahwa penanganan unjuk rasa sebelumnya terkadang mengalami kekerasan atau penggunaan kekuatan yang berlebihan. Komnas HAM, misalnya, meminta agar polisi selalu menghormati hak asasi dalam setiap situasi aksi massa.
5. Tantangan Polda Sumut dalam Mengimplementasikan Pengamanan Unjuk Rasa yang Humanis
Konsistensi di lapangan — Latihan bisa bagus, tapi saat situasi nyata, tekanan psikologis, panas media, dan emosi massa bisa memicu tindakan kekerasan atau penyimpangan prosedur.






