Waspada Kelompok Paling Rentan Terdampak El Nino “Godzilla” 2026
Jangkaujan Jakarta Barat – Waspada Kelompok Paling Rentan Fenomena iklim ekstrem kembali menjadi perhatian global. Tahun 2026 diprediksi akan diwarnai oleh kemunculan El Nino berkekuatan besar yang oleh sejumlah pengamat dijuluki “Godzilla” karena potensi dampaknya yang luas dan intens. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada sektor alam diperkirakan menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampak signifikan.
El Nino dikenal sebagai fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu perubahan pola cuaca secara global. Di Indonesia, kondisi ini biasanya berujung pada penurunan curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, serta meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan. Namun, yang sering luput dari perhatian adalah siapa saja kelompok yang paling rentan menghadapi dampaknya.
Kelompok pertama yang paling terdampak adalah petani kecil. Mereka bergantung pada pola musim yang stabil untuk menentukan waktu tanam dan panen. Ketika hujan terlambat atau tidak turun sesuai prediksi, produksi pertanian menurun drastis. Komoditas seperti padi, jagung, dan kedelai sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Akibatnya, bukan hanya petani yang merugi, tetapi juga ketahanan pangan nasional ikut terancam.
Selain petani, masyarakat di wilayah rawan air bersih juga menjadi kelompok yang sangat rentan. Di banyak daerah, sumber air bergantung pada curah hujan dan cadangan air tanah yang terbatas. Saat El Nino terjadi, sumur-sumur mengering dan distribusi air bersih menjadi terganggu. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan sehari-hari, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit akibat sanitasi yang buruk.
Kelompok berikutnya adalah masyarakat miskin perkotaan.
Meski tinggal di kota, mereka sering kali hidup dalam kondisi yang minim akses terhadap layanan dasar. Kenaikan harga pangan akibat gagal panen akan langsung memukul daya beli mereka. Ditambah lagi, suhu udara yang lebih panas dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi mereka yang tinggal di permukiman padat tanpa ventilasi yang memadai.
Anak-anak dan lansia juga masuk dalam kategori paling rentan. Anak-anak membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh kembang, sementara lansia memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah. Dalam kondisi kekeringan dan krisis pangan, kedua kelompok ini berisiko mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius, mulai dari dehidrasi hingga malnutrisi.
Tidak kalah penting adalah pekerja sektor informal yang bergantung pada kondisi lingkungan, seperti nelayan dan buruh harian. Perubahan pola angin dan suhu laut akibat El Nino dapat memengaruhi hasil tangkapan ikan. Sementara itu, berkurangnya aktivitas ekonomi di sektor pertanian dan konstruksi berdampak langsung pada pendapatan buruh harian.
Pemerintah melalui BMKG telah mengingatkan potensi dampak El Nino 2026
dan mendorong langkah mitigasi sejak dini. Beberapa upaya yang disarankan meliputi pengelolaan air yang lebih efisien, penyesuaian pola tanam, serta peningkatan cadangan pangan. Sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi kunci agar risiko dapat diminimalkan.
Di sisi lain, peran pemerintah daerah sangat penting dalam mengidentifikasi kelompok rentan di wilayah masing-masing. Data yang akurat akan membantu penyaluran bantuan menjadi lebih tepat sasaran. Selain itu, kolaborasi dengan komunitas lokal dan organisasi masyarakat sipil dapat memperkuat ketahanan sosial dalam menghadapi krisis.
El Nino “Godzilla” 2026 menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang harus dihadapi saat ini. Tanpa langkah antisipatif yang serius, kelompok paling rentan akan menjadi pihak yang paling menderita.






